Metode Analisis Koulometri
Dalam potensiometri, potensial sebuah sel elektrokimia pada kondisi statis digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu analit. Seperti yang terlihat pada bagian sebelumnya, potensiometri adalah metode analisis kuantitatif yang
penting dan sering digunakan. Metode
elektrokimia dinamis, seperti koulometri, voltametri, dan amperometry, di
mana arus melewati sel elektrokimia, juga merupakan
teknik analisis yang penting. Pada bagian ini kita akan mempelajari metode
analisis koulometri. Voltametri dan amperometri akan
dibahas dalam Bagian 11D.
Metode analisis koulometri didasarkan
pada elektrolisis analit secara
penuh. Secara penuh ini berarti bahwa analit secara kuantitatif dioksidasi atau direduksi pada elektroda atau bereaksi secara kuantitatif dengan reagen yang
dihasilkan pada elektroda.
Ada dua bentuk koulometri:
koulometri dengan potensial terkontrol, di mana suatu potensial konstan diterapkan
pada sel elektrokimia, dan
koulometri dengan arus terkontrol, di
mana suatu arus konstan dilewatkan
melalui sel elektrokimia.
Total muatan, Q, dalam
coulomb, yang lewat selama elektrolisis
berhubungan dengan jumlah absolut
analit menurut hukum Faraday
Q = nFN
11.23
Di mana n adalah banyaknya
electron yang ditransfer per mol analit, F adalah konstanta Faraday (96487 C mol–1), dan N adalah
mol analitnya. Satu coulomb sama dengan to an A-s; jadi, untuk aarus yang tetap, i, muatannya
ditentukan dengan
Q = ite 11.24
Di mana te adalah waktu elektrolisis. Jika arus bervariasi terhadap waktu, seperti
pada koulometri dengan potensial terkontrol, maka
muatan totalnya ditentukan dengan

Koulometri
Suatu metode elektrokimia yang mengukur
arus yang diperlukan untuk mengoksidasi atau mereduksi analit secara penuh
Hukum Faraday
Arus atau muatan yang melewati reaksi
redoks berbanding lurus dengan mol reaktan reaksi dan produk-produknya
Efisiensi arus
Persentasi arus sebenarnya yang menyebabkan
oksidasi atau reduksi analit.
Dalam koulometri, arus dan waktu
diukur, dan persamaan
11.24 atau persamaan
11.25 digunakan untuk menghitung Q.
Persamaan 11.23 kemudian
digunakan untuk menentukan mol
analit. Karena itu, untuk mendapatkan
nilai N yang akurat, semua arus harus menghasilkan oksidasi atau reduksi analit. Dengan kata lain, koulometri membutuhkan efisiensi arus 100% (atau efisiensi
arus diukur yang diukur secara akurat yang ditetapkan dengan menggunakan sebuah standar),
faktor yang harus dipertimbangkan dalam
merancang sebuah metode analisis
koulometri.
IIC.1
Koulometri dengan Potensial Terkontrol
Metode termudah untuk memastikan efisiensi
arus 100% adalah dengan menjaga
elektroda pada potensial konstan yang
memungkinkan terjadinya oksidasi atau reduksi analit secara kuantitatif, dengan tidak teroksidasi atau tereduksi secara bersama-sama pada
spesies yang mencampuri. Arus
yang mengalir melalui sel
elektrokimia di bawah potensi
konstan sebanding dengan konsentrasi analit itu.
Saat elektrolisis berlangsung konsentrasi analit menurun, demikian pula arusnya. Profil arus yang
dihasilkan-versus-waktu untuk koulometri
dengan potensial terkontrol, yang juga dikenal sebagai koulometri potensiostatik, ditunjukkan pada Gambar
11.20. Dengan mengintegralkan daerah di bawah kurva (persamaan 11.25), dari t = 0 sampai t = te, menghasilkan muatan total. Pada bagian ini kita mempelajari
parameter percobaan dan peralatan yang diperlukan untuk
mengembangkan metode analisis koulometri dengan potensial terkontrol.
Gambar 11.20
Kurva arus-waktu untuk koulometri
dengan potensial terkontrol
Memilih potensial konstan Dalam koloumetri dengan potensial
terkontrol, potensialnya
dipilih sehingga reaksi oksidasi atau reduksi yang diinginkan terjadi sepenuhnya tanpa gangguan dari reaksi redoks yang melibatkan komponen lain dari matriks sample. Untuk melihat bagaimana memilih potensial yang sesuai untuk elektroda, mari kita mengembangkan suatu metode kulometri potensial konstan untuk Cu2+ yang didasarkan pada reduksi dengan logam tembaga pada elektroda katoda Pt.
dipilih sehingga reaksi oksidasi atau reduksi yang diinginkan terjadi sepenuhnya tanpa gangguan dari reaksi redoks yang melibatkan komponen lain dari matriks sample. Untuk melihat bagaimana memilih potensial yang sesuai untuk elektroda, mari kita mengembangkan suatu metode kulometri potensial konstan untuk Cu2+ yang didasarkan pada reduksi dengan logam tembaga pada elektroda katoda Pt.
Suatu diagram
tangga untuk larutan Cu2+ (Gambar 11.21) memberikan cara yang berguna untuk mengevaluasi sifat redoks larutan.
Dari diagram tangga kita bisa melihat bahwa reaksi 11.26 dipilih jika potensial
elektroda kerjanya lebih negatif dari +0.342 V terhadap SHE (+0.093 V terhadap SCE). Akan tetapi, untuk mempertahankan efesiensi arus 100%, potensialnya
harus dipilih sehingga reduksi H3O+
to H2 tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap total muatan yang melewati elektroda.
Potensial yang diperlukan untuk reduksi kuantitatif Cu2+ dapat dihitung menggunakan persamaan Nernst.

Jika kita mendefinisikan reduksi kuantatif sebagai reaksi
di mana 99.99% Cu2+ direduksi
ke Cu, maka konsentrasi Cu2+ pada
akhir elektrolisis adalah
Di mana [Cu2+]0 adalah konsentrasi awal Cu2+ pad sampel. Dengan mensubtitusi persama 11.28 ke
persamaan 11.27 menghasilkan potensial elektroda yang diinginkan yaitu

Gambar 11.21
Diagram tangga
untuk larutan dalam air Cu2+
Jika konsentrasi awal Cu2+ adalah 1.00 x 10–4 M misalnya, maka potensial katode harus lebih negatif dari +0.105 V terhadap
SHE (–0.139 V terhadap
SCE) untuk mencapai reduksi kuantatif Cu2+ menjadi
Cu. Perhatikan bahwa pada potensial
ini H3O+ tidak direduksi menjadi H2, mempertahankan
efisiensi arus 100%. Banyak prosedur yang dikenal untuk analisis
koloumetri dengan potensial terkontrol untuk Cu2+ membutuhkan potensial yang lebih
negatif dari yang ditunjukkan untuk reduksi H3O+ pada gambar11.21. Akan tetapi potensial
sebesar itu dapat digunakan karena kinetika yang lambat dalam mereduksi H3O+ menghasilkan overpotential yang signifikan yang menggeser
potensial pasangan redox H3O+/H2 menjadi
lebih negatif.
overpotential
Perbedaan antara potensial yang sebenarnya diperlukan untuk
mengawali suatu reaksi oksidasi atau reduksi, dan potensial yang diperkirakan
dengan persamaan Nernst.
Meminimalkan Waktu Elektrolisis Kurva arus-waktu untuk kolometri dengan potensial yang dikendalikan
pada Gambar 11.20 menunjukkan bahwa arus
terus menurun selama elektrolisis. Karena itulah, elektrolisis penuh mungkin
memerlukan waktu yang lama. Karena waktu adalah suatu pertimbangan penting
dalam memilih dan merancang metode analitis, faktor-faktor yang menentukan waktu
analisis perlu dipertimbangkan.
Perubahan arus
sebagai fungsi dari waktu pada koulometri dengan potensial yang dikendalikan
dibuat hampirannya dengan peluruhan eksponensial, sehingga arus pada waktu t
adalah
Di mana i0 adalah arus awal, dan k
adalah konstanta yang berbanding
lurus dengan luas elektrode kerja dan laju pengadukan dan
berbanding terbalik dengan volume larutan. Untuk elekrolisis penuh di mana 99.99% analit dioksidasi atau direduksi, arus pada
akhir analisis, dapat dihampiri dengan
Dengan mensubtitusi persamaan 11.30 ke persamaan
11.29 dan menghitung te menghasilkan waktu minimum untuk elektrolisis
penuh yaitu

Dari persamaan ini kita melihat bahwa peningkatan
k menyebabkan waktu analisis lebih pendek. Untuk alasan ini koulometri dengan
potensial dikendalikan dilakukan dalam sel elektrokimia dengan volume kecil,
menggunakan elektroda dengan luas permukaan besar dan dengan laju pengadukan
yang tinggi. Sebuah elektrolisis kuantitatif biasanya membutuhkan sekitar 30-60
menit, meskipun waktunya bisa lebih pendek atau lebih lama.
Gambar 11.22
Kurva arus-waktu yang didapat dengan
mengintegralkan kurva arus-waktu pada Gambar 11.20
Peralatan Potensial pada koulometri dengan potensial
digunakan diatur menggunakan potensiostat tiga elektroda. Dua
jenis elektroda kerja biasanya
digunakan: elektroda Pt yang
dibuat dari platinum-kasa dan dibuat
menjadi sebuah tabung silinder,
dan sebuah elektroda Hg. Overpotential yang besar
untuk mengurangi H3O+
di air raksa membuatnya menjadi elektroda pilihan untuk analit yang membutuhkan potensial negatif. Misalnya,
potensial lebih negatif daripada -1 V terhadap SCE lebih mungkin dilakukan pada elektroda Hg (tetapi
tidak pada elektroda Pt), bahkan dalam larutan yang sangat asam. Akan
tetapi, mudahnya air raksa teroksidasi, membuatnya
tidak bisa digunakan pada potensial yang positif terhadap SHE. Elektroda
kerja platinum yang digunakan jika potensial
positif yang diperlukan. Elektroda tambahan, yang
biasanya adalah sebuah kawat Pt, dipisahkan
oleh sebuah jembatan garam
dari larutan yang mengandung analit. Hal ini diperlukan untuk mencegah produk elektrolisis
yang dihasilkan pada elektroda tambahan bereaksi dengan analit dan mengganggu analisis.
Sebuah elektroda kalomel jenuh atau Ag / AgCl berfungsi sebagai
elektroda pembanding
Instrumentasi penting lainnya untuk koulometri dengan potensial dikendalikan adalah cara menentukan muatan
total yang lewat selama elektrolisis. Salah satu metodenya adalah dengan memantau
arus sebagai fungsi
waktu dan menentukan luas di bawah
kurva (lihat Gambar 11.20). Akan tetapi, instrumen modern menggunakan
integrasi elektronik untuk memantau
muatan sebagai fungsi waktu. Muatan total
pada akhir elektrolisis pun dapat
dibaca langsung dari pembacaan
digital atau dari suatu grafik
arus terhadap waktu.(Gambar 11.22).
11C.2
Koulometri dengan Arus Dikendalikan
Pendekatan koulometri kedua adalah dengan menggunakan arus konstan sebagai
pengganti potensial konstan (Gambar 11.23). Koulometri dengan arus dikendalikan,
juga dikenal sebagai koulometri amperostatik atau titrimetri koulometrik,
memiliki dua keunggulan dibandingkan koulometri dengan potensial dikendalikan.
Pertama, menggunakan arus konstan akan membuat analisis yang lebih cepat karena
arus tidak berkurang dari waktu ke waktu. Dengan demikian, waktu analisis yang
umum untuk koulometri dengan arus dikendalikan adalah kurang dari 10 menit,
dibandingkan koulometri dengan potensial terkontrol yang lamanya sekitar 30-60
menit. Kedua, dengan arus konstan total muatannya adalah perkalian dari arus dan
waktu (persamaan 11.24). Oleh karena itu, metode untuk mengintegralkan kurva
arus-waktu tidak diperlukan.
Menggunakan arus konstan akan menyebabkan
dua permasalahan penting pada percobaan yang
harus dipecahkan jika ingin mendapatkan hasil yang akurat. Pertama, saat elektrolisis
terjadi, konsentrasi analit dan arus yang disebabkan oleh oksidasi atau reduksinya
akan terus menurun. Untuk mempertahankan
arus konstan potensial selnya harus berubah sampai reaksi oksidasi atau reduksi
lain dapat terjadi pada elektroda kerja. Jika sistem dirancang dengan tidak
teliti, reaksi sekunder ini akan
menghasilkan efisiensi arus kurang dari 100%. Masalah kedua adalah dibutuhkannya
suatu metode untuk menentukan kapan analit dielektrolisis secara penuh. Dalam koulometry
dengan potensial terkontrol hal ini ditandai dengan penurunan arus menjadi konstan
atau arus residual (lihat Gambar 11.20).
Akan tetapi, dalam koulometri dengan arus dikendalikan, arus konstan akan terus
mengalir bahkan ketika analit telah sepenuhnya teroksidasi atau tereduksi. Cara
yang cocok untuk menentukan titik akhir reaksi, te, akan diperlukan.
Gambar 11.23 Kurva arus-waktu untuk koulometri dengan arus dikendalikan
Mempertahankan Efisiensi Arus Untuk menggambarkan mengapa mengubah
potensial elektroda kerja dapat menyebabkan efisiensi arus kurang dari 100%,
mari kita membuat analisis koulometri untuk Fe2 + berdasarkan
oksidasinya menjadi Fe3 + pada elektroda kerja Pt dalam 1 M H2SO4.
Diagram
tangga untuk sistem ini ditunjukkan pada Gambar 11.24a. Pada awalnya potensial elektroda tetap
hampir konstan pada besaran dekat potensial keadaan standar untuk pasangan
redoks Fe3+/Fe2+. Akan tetapi, saat konsentrasi Fe2+ menurun,
potensial elektroda
kerja bergeser ke nilai yang lebih positif sampai reaksi oksidasi lain dapat
memberikan arus yang diperlukan. Jadi, pada kasus ini potensialnya pada
akhirnya meningkat ke level di mana oksidasi
H2O terjadi.
Karena arus
karena oksidasi H3O+ tidak berpengaruh pada oksidasi Fe2+, efisiensi arus pada analisis kurang dari 100%. Untuk mempertahankan efisiensi arus 100% hasil dari reaksi-reaksi oksidasi yang saling
berlawanan harus bereaksi dengan cepat maupun kuantitatif dengan sisa Fe2+. Ini dapat dicapai misalnya, dengan menambahkan
suatu ekses Ce3+ pada larutan yang dianalisis (Gambar 11.24b). Jika potensial elektroda
kerja bergeser ke potensial yang lebih positif, jenis pertama yang dioksidasi
adalah Ce3+.
Ce4+ yang
dihasilkan pada elektroda kerja dengan cepat bercampur dengan larutan, yang
kemudian akan bereaksi dengan Fe2+ yang ada.
Ce4+(aq)
+ Fe2+(aq) t Fe3+(aq) + Ce3+(aq) 11.31
Ce4+(aq)
+ Fe2+(aq) t Fe3+(aq) + Ce3+(aq) 11.31
Diagram
tangga untuk analisis koulometri dengan arus terkontrol untuk Fe2+ (a) tanpa
penambahan Ce3+, dan (b) dengan penambahanCe3+.Dalam kedua kasus tersebut
matriksny adalah 1 M H2SO4.
mediator
Suatu zat yang mentransfer elektron dari electrode ke
analit.
Dengan menggabungkan reaksi ini akan
menghasilkan reaksi keseluruhan yang diinginkan
Fe2+(aq) t Fe3+(aq) + e–
Dengan cara ini
efisiensi arus 100% dapat
diperahankan. Selain itu, karena konsentrasi Ce3+ tetap
pada level awalnya, potensial elektrodanya akan tetapi konstan sepanjang Fe2+ masih
ada. Hal ini mencegah terjadinya reaksi
oksidasi lainnya, misalnya H2O, untuk
mengganggu analisis. Suatu zat seperti Ce3+, yang
digunakan untuk mempertahankan efisesi arus100% disebut mediator.
Penentuan titik Akhir Menambahkan mediator akan
menyelesaikan permasalahan dalam menentukan kapan elektrolisis analitnya
selesai Menggunakan contoh yang sama, setelah semua Fe2+ teroksidasi
arusnya terus mengalir karena oksidasi Ce3+ dan pada akhirnya oksidasi H2O. Yang diperlukan adalah cara
menunjukkan kapan oksidasi Fe2+ selesai. Untuk ini kita bisa memberlakukan suatu analis
koulometri dengan arus dikendalikan seolah-olah elektrolisis analit hanya akan
terjadi karena reaksinya dengan mediator.Reaksi antar analit dan
mediator, seperti pada reaksi 11.31, serupa dengan yang ditemukan pada titrasi
redoks. Jadi, titik akhir yang sama yang digunakan untuk titimetri redoks
(lihat Bab 9), seperti indikator visual dan pengukuran potensiometri dan
konduktometrik, dapat digunakan untuk memberi sinyal titik akhir pada analisis
koulometri dengan arus dikendalikan. Misalnya, ferroin bisa digunakan untuk
memberikan titik akhir visual untuk analisis koulometri dengan mediator Ce3+ untuk Fe2+.
Peralatan Koulometri dengan
arus dikendalikan biasanya dilakukan menggunakan galvanostat dan sebuah sel elektrokimia yang terdiri atas elektroda kerja dan
elektroda pendukung. Elektroda
kerja yang umumnya dibuat dari Pt, juga
disebut dengan elektroda generator karena di situ mediator bereaksi untuk
menghasilkan zat yang beraksi dengan analit. Elektroda pendukung kemudian dipisahkan
dari larutan analitis menggunakan jembatan garam atau frit berpori untuk
mencegah produk elektrolisisnya bereaksi dengan analit. Selain itu,
mengoksidasi atau merduksi mediator dapat dilakukan secara eksternal, dan
produk yang sesuai dibilas ke larutan analitis. Gambar 11.25 menunjukkan
satu metode sederhana di mana mengoksidasi dan mereduksi agen dapat dilakukan
secara eksternal. Laturan yang berisi mediator mengalir di bawah pengaruh
gravitasi menuju sebuah sel elektrokimia bervolume kecil. Produk yang
dihasilkan pada anoda dan katoda akan melewati tabung yang berbeda, dan reagen
oksidasi atau reduksi dapat dikirim secara selektif pada larutan analitis.
Gambar 11.25 Metode untuk menghasilkan agen oksidasi dan reduksi secara
eksternal pada titrasi koulometri.
Komponen penting lainnya yang diperukan untuk koulometry dengan arus
dikendalikan adalah sebuah jam yang akurat untuk mengukur waktu elektrolisis,
te, dan sebuah tombol untuk memulai dan menghentikan elektrolisis. Jam analog bisa membaca waktu sampai +0.01 detik terdekat
, tapi karena memulai dan menghentikan elektrolisis harus sering dilakukan
dekat titik akhir maka akan menyeabkan ketidakpastian bersih +0.01 s. Jam digital memberikan pengukuran waktu
yang lebih akurat, dengan kemungkinan kesalahan
+1 ms. Tombol harus mengontrol aliran arus dan jam, sehingga penentuan
waktu elektrolisis yang akurat dapat dilakukan.
Titrasi kulometri Metode kulometri dengan arus dikendalikan umumnya disebut titrasi koulometri karena menyerupai titrasi konvensional. Telah kami kemukakan saat dalam membahas penentuan Fe2+ dengan koulometri dengan arus dikendalikan, bahwa oksidasi Fe2+ oleh Ce4+ identik dengan reaksi yang digunakan dalam titrasi redoks. Kesamaan lain antara kedua teknik tersebut juga ada. Dengan menggabungkan Persamaan 11.23 dan 11.24 dan menghitung untuk mol analit menghasilkan

Bandingkan persamaan ini dengan
hubungan antara mol asam kuat N, yang dititrasi dengan basa kuat dengan
konsentrasi yang diketahui.
N
= (M basa ) (V basa)
Titrasi
koloumetri
Titrasi di mana titik ekivalen adalah waktu yang diperlukan untuk suatu
arus konstan sepenuhnya mengoksidasi atau mereduksi analit.
Titran dalam titrasi konvensional dalam titrasi coulometri diganti dengan suatu sumber arus konstan yang arusnya analog dengan molaritas titran itu. Waktu yang dibutuhkan untuk elektrolisis sepenuhnya mengganti volume titran, dan tombol untuk memulai dan menghentikan elektrolisis mempunyai fungsi yang sama seperti stop kran sebuah buret.
11C.3 Aplikasi Kuantitatif
Koulometry dapat digunakan untuk analisis kuantitatif senyawa anorganik maupun organik. Contoh metode koulometri dengan potensial dikendalikan dan arus dikendalikan akan dalam bagian berikut.
Koulometry dengan potensial terkontrol Sebagian besar analisis koulometri dengan potensial dikendalikan melibatkan penentuan kation dan anion anorganik, termasuk jejak logam dan halida. Tabel 11.8 memberikan ringkasan beberapa metode ini.
Kemampuan untuk
mengendalikan selektivitas dengan secara teliti memilih potensial elektroda
kerja, membuat koulometry dengan potensial dikendalikan sangat berguna untuk
analisis alloy. Sebagai contoh, komposisi sebuah alloy yang mengandung Ag, Bi,
Cd, dan Sb dapat ditentukan dengan melarutkan sampel dan menempatkannya dalam matriks H2SO4 0,2 M. Sebuah elektroda kerja platinum direndam dalam
larutan dan dipertahankan pada
potensial konstan 0,40 V terhadap SCE. Pada potensial ini Ag (I) , mengendap pada elektroda Pt sebagai Ag, dan ion logam lainnya tetap dalam larutan. Ketika elektrolisis selesai, total muatan digunakan untuk menentukan jumlah perak dalam alloy. Potensi elektroda platina kemudian digeser ke -0.08 V terhadap SCE, mengendapkan Bi pada elektroda kerja. Ketika analisis coulometri untuk bismut selesai, antimon dapat ditentukan dengan menggeser potensial elektroda kerja ke -0.33 V terhadap SCE, mengendapkan Sb. Terakhir, kadmium ditentukan setelah elektrodeposisi pada elektroda Pt pada potensial -0.80 V terhadap SCE
Bidang
aplikasi lain untuk koulometry dengan potensial dikendalikan adalah kimia nuklir, di mana unsur-unsur seperti uranium dan polonium dapat ditentukan jejaknya. Misalnya, jumlah mikrogram uranium dalam medium H2SO4 dapat ditentukan
dengan mereduksi U (VI) menjadi U (IV) pada elektroda kerja merkuri.
Koulometri
dengan potensial dikendalikan juga dapat diterapkan pada analisis kuantitatif senyawa organik,
meskipun aplikasinya sedikit sekali dibandingkan aplikasi pada analit anorganik. Salah satu contohnya adalah pereduksian enam elektron dari suatu kelompok nitro,-NO2,
menjadi amina primer,-NH2,
pada elektroda merkuri. Larutan asam pikrat misalnya, dapat dianalisis dengan mereduksinya
menjadi triaminophenol.
|
Tabel 11.8
|
Contoh Representatif Analisis
Koulometri dengan Potensial Dikendalikan untuk Ion Anorganik
|
|
Analit
|
Reaksi
Elektrolisisa
Elektroda
|
|
Antimon
|
Sb(III) + 3e ≈
Sb
Pt
|
|
Arsenik
|
As(III) ≈As(V) + 2e– Pt
|
|
Kadmium
|
Cd(II)
+ 2e– ≈ Cd
Pt or Hg
|
|
Kobalt
|
Co(II)
+ 2e– ≈ Co Pt or Hg
|
|
Tembaga
|
Cu(II)
+ 2e– ≈ Cu
Pt or Hg
|
|
Halida
|
Ag
+ X– ≈ AgX + e– Ag
|
|
Baja
|
Fe(II) ≈ Fe(III) + e– Pt
|
|
Timah
|
Pb(II)
+ 2e– ≈ Pb
Pt or Hg
|
|
Nikel
|
Ni(II) + 2e– ≈ Ni
Pt or Hg
|
|
Plutonium
|
Pu(III)
≈
Pu(IV) + e– Pt
|
|
Perak
|
Ag(I)
+ e– ≈ Ag Pt
|
|
Tin
|
Sn(II)
+ 2e– ≈ Sn
Pt
|
|
Uranium
|
U(VI) + 2e– ≈ U(IV) Pt or
Hg
|
|
Zinc
|
Zn(II)
+ 2e– ≈ Zn Pt
or Hg
|
Source: Compiled from Rechnitz, G. A. Controlled-Potential Analysis. Macmillan: New York, 1963, p. 49.
aReaksi
elektrolisis ditulis menurut perubahan dalamkeadaan oksidasi. Jenis yang
sebenarnya ada di dalam larutan tergantung pada komposisi matriks sampel.
Tabel 11.9 Contoh-Contoh
Titrasi Redoks Koulometrik
|
Mediator Reagen yang dihasilkan Reaksi Elektroda Generator Aplikasi Representatif
Secara Elektrokimia
|
![]() |
Contoh
lain adalah
reduksi trichloroacetate menjadi dichloroacetate, dan dichloroacetate menjadi monochloroacetate

Campuran trichloroacetate dan dichloroacetate dianalisis dengan memilih suatu
potensial awal di mana yang direduksi hanya trichloroacetate yang lebih mudah direduksi. Ketika elektrolisisnya selesai, potensial tersebut menjadi potensial yang lebih negatif pada saat dichloroacetate direduksi. Total muatan untuk elektrolisis pertama digunakan untuk menentukan jumlah trichloroacetate, dan perbedaan muatan total antara elektrolisis pertama dan kedua menghasilkan jumlah dichloroacetate.
Koulometry dengan Arus Dikendalikan Penggunaan mediator membuat koulometry dengan arus dikendalikan menjadi metode analisis yang lebih fleksibel daripada koulometri dengan potensial dikendalikan. Misalnya, oksidasi atau reduksi langsung protein pada elektroda kerja koulometri dengan potensial dikendalikan akan sulit jika tempat redoks aktif protein terletak jauh di dalam strukturnya. Sedangkan analisis kulometri dengan arus terkontrol pada protein tersebut bisa dilakukan dengan menggabungkan oksidasi atau reduksinya pada suatu mediator yang direduksi atau teroksidasi pada elektroda kerja. Metode kulometri dengan arus terkontrol telah dikembangkan untuk banyak analit yang juga bisa ditentukan menggunakan secara titrimetri redoks konvensional. Metode ini, yang beberapa di antaranya dirangkum dalam Tabel 11.9, juga disebut titrasi redoks kulometri.
potensial awal di mana yang direduksi hanya trichloroacetate yang lebih mudah direduksi. Ketika elektrolisisnya selesai, potensial tersebut menjadi potensial yang lebih negatif pada saat dichloroacetate direduksi. Total muatan untuk elektrolisis pertama digunakan untuk menentukan jumlah trichloroacetate, dan perbedaan muatan total antara elektrolisis pertama dan kedua menghasilkan jumlah dichloroacetate.
Koulometry dengan Arus Dikendalikan Penggunaan mediator membuat koulometry dengan arus dikendalikan menjadi metode analisis yang lebih fleksibel daripada koulometri dengan potensial dikendalikan. Misalnya, oksidasi atau reduksi langsung protein pada elektroda kerja koulometri dengan potensial dikendalikan akan sulit jika tempat redoks aktif protein terletak jauh di dalam strukturnya. Sedangkan analisis kulometri dengan arus terkontrol pada protein tersebut bisa dilakukan dengan menggabungkan oksidasi atau reduksinya pada suatu mediator yang direduksi atau teroksidasi pada elektroda kerja. Metode kulometri dengan arus terkontrol telah dikembangkan untuk banyak analit yang juga bisa ditentukan menggunakan secara titrimetri redoks konvensional. Metode ini, yang beberapa di antaranya dirangkum dalam Tabel 11.9, juga disebut titrasi redoks kulometri.
Menggabungkan oksidasi atau reduksi mediator
dengan reaksi presipitasi atau kompleksasi asam-basa, curah hujan yang melibatkan analit memungkinkan untuk titrasi koulometrik analit yang tidak mudah teroksidasi atau tereduksi. Misalnya, ketika menggunakan H2O sebagai mediator, oksidasi pada anoda menghasilkan H3O+
Sedangkan reduksi pada katoda menghasilkan OH–.
Jika oksidasi atau reduksi H2O dilakukan secara eksternal menggunakan sel
generator yang ditunjukkan pada Gambar 11.25,
maka H3O+ atau OH– dapat disalurkan secara selektif
ke suatu larutan yang mengandung analit basa atau asam. Reaksi yang dihasilkan
identik dengan reaksi pada titrasi asam-basa. Titrasi asam-basa koulometrik
telah digunakan untuk
analisis asam kuat dan lemah dan basa, dalam matriks dengan pelarut air dan bukan air. Contoh titrasi kulometri melibatkan reaksi kompleksasi, dan presipitasi asam basa dirangkum dalam
Tabel 11.10.
Dibandingkan dengan titrimetri konvensional, ada beberapa kelebihan titrasi kulometri yang tercantum pada Tabel 11.9 dan 11.10. Satu kelebihannya adalah
bahwa pembuatan “titran”secara elektrokimia yang bereaksi langsung dengan analit memungkinkan penggunaan reagen yang ketidakstabilannya
mencegahnya tersimpan sebagai larutan standar. Dengan demikian, reagen yang sangat reaktif seperti Ag2+ dan Mn3+ dapat digunakan dalam titrasi kulometri. Karena relatif mudah mengukur muatan yang kecil, titrasi kulometri dapat digunakan untuk menentukan analit dalam jumlah
sedikit yang tidak dapat diukur secara akurat menggunakan titrasi konvensional.
TABEL 11.10 Contoh Titrasi Koulometrik Menggunakan Reaksi Asam-Basa, Kompleksasi dan Presipitasi
TABEL 11.10 Contoh Titrasi Koulometrik Menggunakan Reaksi Asam-Basa, Kompleksasi dan Presipitasi
|
Jenis reaksi
|
Mediator Reagen yang dihasilkan Reaksi Elektroda Generator Reaksi Representatif
Secara
Elektrokimia
|
|
Asam-Basa
Kompleksasi
Presipitasi
|
![]() |
Perhitungan kuantitatif Jumlah analit mutlak dalam analisisis kulometri ditentukan dengan menerapkan hukum Faraday (persamaan 11,23) dengan total mutan selama elektrolisis diberikan oleh
persamaan 11.24 atau persamaan 11.25. Contoh 11.8 menunjukkan perhitungan untuk analisis koulometrik yang umum..
Contoh 11.8
Kemurnian suatu sampel Na2S2O3
ditentukan dengan titrasi redoks kulometri menggunakan I- sebagai
mediator, dan I3- sebagai "titran." Suatu
sample dengan berat 0,1342 g ditransfer ke labu ukur 100 mL dan diencerkan
dengan air suling. Bagian sebesar 10.00 mL dipindahkan ke sel elektrokimia
bersama dengan 25 mL 1 M KI, 75 mL buffer fosfat dengan pH 7,0, dan beberapa
tetes larutan indikator kanji. Elektrolisis pada arus konstan 36,45 mA
memerlukan waktu 221,8 s untuk mencapai titik akhir indikator kanji. Tentukan kemurnian
sampel.
SOLUSI
Dari Tabel 11.9 kita melihat bahwa titrasi coulometri dari S2O32- dengan I3- adalah
SOLUSI
Dari Tabel 11.9 kita melihat bahwa titrasi coulometri dari S2O32- dengan I3- adalah
Oksidasi S2O32- ke S4O62 membutuhkan satu elektron per S2O32- (n = 1). Dengan menggabungkan persamaan 11.23 dan 11.24, dan dengan membuat substitusi yang sesuai untuk mol Na2S2O3 menghasilkan

Perhitungan gram Na2S2O3 menghasilkan

Ini merupakan jumlah Na2S2O3 dalam
10,00 mL bagian sampel 100-mL, sehingga ada 0,1325 g Na2S2O3
dalam sampel aslinya. Maka, kemurnian sampel adalah

Perhatikan bahwa perhitungan ini didapat dengan mengasumsikan S2O32-
teroksidasi langsung pada elektroda kerja, bukan dalam larutan.
Metode Representatif
Metode Representatif
Setiap metode koulometri dengan potensial terkontrol atau arus terkontrol memiliki
pertimbangannya sendiri-sendiri. Namun demikian, prosedut berikut dalam
menentukan dikromat menggunakan titrasi redoks kulometri memberi contoh yang
berguna.
Metode 11.2 Penentuan dikromat menggunakan Titrasi Redox Koulometri
Metode 11.2 Penentuan dikromat menggunakan Titrasi Redox Koulometri
Deskripsi Metode. Konsentrasi Cr2O72- dalam sampel ditentukan menggunakan titrasi redoks kulometri dengan Fe3+ sebagai mediator dan Fe2+ yang dihasilkan secara listrik sebagai "titran." Titik akhir titrasi redoks kulometri ditentukan secara potentiometris.
Prosedur. Sel elektrokimia yang terdiri dari elektroda kerja Pt dan elektroda pendukung Pt yang ditempatkan dalam ruang terpisah yang terhubung dengan solusi analitis melalui sebuah piringan kaca berpori. Ruang elektroda pendukung diisi dengan 0,2 M Na2SO4, yang besarnya harus selalu dijaga di atas konsentrasi larutan dalam sel elektrokimia. Elektroda platinum dan tungsten yang dihubungkan ke potensiometer digunakan untuk mengikuti perubahan potensial selama analisis. Suatu larutan sekitar 0,3 M NH4Fe (SO4)2 disiapkan sebagai mediator. Titrasi redoks kulometri dilakukan dengan menambahkan 5,00 mL larutan sampel, larutan mediator 2 mL 9 M H2SO4 dan 10-25 mL NH4Fe (SO4)2. Air suling ditambahkan sesuai kebutuhan sampai elektrodanya tertutup. N2 murni ditiupkan melalui larutan selama 15 menit untuk menghilangkan jejak O2. Aliran N2 dijaga selama elektrolisis, tapi dimatikan sebenar saat mengukur potensialnya. Sebuah batang pengaduk magnet digunakan untuk mengaduk larutan. Atur arusnya menjadi 15-50 mA, dan mulai titrasinya. Hentikan titrasi secara berkala, dan ukur potensial larutannya. Dengan cara ini dapat dibuat
kurva titrasi potensial terhadap waktu. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen dibaca dari kurva titrasi.
Pertanyaan
1. Apakah elektroda kerja platinum berfungsi sebagai katoda atau anoda dalam analisis ini?
Reduksi Fe3+ menjadi Fe2+ terjadi pada elektroda kerja, sehingga berfungsi sebagai katoda dalam sel elektrokimia.
2. N2 murni ditiupkan pada larutan untuk menghilangkan jejak O2 terlarut.
Mengapa ini diperlukan?
Jika ada O2, sebagian Fe2+ yang dihasilkan secara listrik dapat teroksidasi kembali menjadi Fe3 + oleh reaksi
Fe2+ yang hilang dengan cara ini harus diganti dengan reduksi tambahan
Fe3 +, mengurangi efisiensi arus dan meningkatkan waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai titik akhir titrasi ini. Hasil akhirnya adalah bahwa konsentrasi Cr2O72-
yang dihitung terlalu besar.
3. Apa efeknya pada analisis jika NH4Fe (SO4)2 digunakan untuk menyiapkan larutan mediator terkontaminasi dengan jumlah jejak Fe2+?
Fe2+ masuk saat larutan mediator yang ditambahkan lebih dulu akan bereaksi dengan
Cr2O72- sebelum elektrolisis dimulai. Akibatnya, jumlah Fe2+ yang harus dihasilkan kurang dari yang diharapkan, mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi. Karena itu, efisiensi arus akan lebih besar dari 100%, dan konsentrasi Cr2O72- yang dihitung akan terlalu kecil. Jumlah jejak Fe2 + dapat dihilangkan dari larutan mediator dengan menambahkan H2O2 dan pemanasan pada 50-70 ° C sampai evolusi O2 berhenti. Atau, titrasi kosong dapat digunakan untuk mengoreksi Fe2+ yang pada awalnya terdapat dalam mediator.
11C.4 Aplikasi Karakterisasi
3. Apa efeknya pada analisis jika NH4Fe (SO4)2 digunakan untuk menyiapkan larutan mediator terkontaminasi dengan jumlah jejak Fe2+?
Fe2+ masuk saat larutan mediator yang ditambahkan lebih dulu akan bereaksi dengan
Cr2O72- sebelum elektrolisis dimulai. Akibatnya, jumlah Fe2+ yang harus dihasilkan kurang dari yang diharapkan, mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi. Karena itu, efisiensi arus akan lebih besar dari 100%, dan konsentrasi Cr2O72- yang dihitung akan terlalu kecil. Jumlah jejak Fe2 + dapat dihilangkan dari larutan mediator dengan menambahkan H2O2 dan pemanasan pada 50-70 ° C sampai evolusi O2 berhenti. Atau, titrasi kosong dapat digunakan untuk mengoreksi Fe2+ yang pada awalnya terdapat dalam mediator.
11C.4 Aplikasi Karakterisasi
Studi bertujuan untuk mencirikan mekanisme reaksi elektroda seringkali menggunakan coulometry untuk menentukan jumlah elektron yang terlibat dalam reaksi. Untuk membuat pengukuran seperti itu senyawa murni yang jumlahnya diketahui dikenakan elektrolisis dengan potensial terkontrol. Coulomb muatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan elektrolisis digunakan untuk menentukan nilai n menggunakan hukum Faraday (persamaan
11.23).
Contoh 11.9
Sebuah sampel asam tetrachloropicolinic 0,3619-g, C6HNO2Cl4,
dilarutkan dalam air suling, ditransfer ke labu ukur 1000 mL, dan diencerkan menjadi
volume. Sebuah elektrolisis penuh dengan potensial terkontrol dari 10,00 mL
larutan ini pada katoda perak spons membutuhkan muatan 5,374 C. Berapa nilai n
untuk reaksi reduksi ini?
SOLUSI
SOLUSI
10.00 mL
sampel berisi 3.619 mg atau 1.39 x 10-5 mol asam
tetrachloropicolinic. Dengan menghitung persamaan 11.23 untuk n dan dengan membuat
substitusi yang tepat menghasilkan

Dengan demikian, mereduksi molekul asam tetrachloropicolinic membutuhkan empat elektron. Reaksi keseluruhan yang menghasilkan formasi selektif 3,6 - asam dichloropicolinic, adalah

Evaluasi 11C.5
Skala Operasi Metode analisis koulometri dapat digunakan untuk menganalisis sejumlah kecil analit. Pada koulometry dengan arus terkontrol misalnya, mol analit yang dihabiskan selama elektrolisis penuh diberikan oleh persamaan 11.32. Sebuah elektrolisis dilakukan dengan arus konstan 100 mA selama 100 s, sehingga hanya menghabiskan 10-7 mol analit jika n = 1. Untuk analit dengan berat molekul 100 g / mol, 1 x 10-7 sama dengan hanya 10 mg. Akan tetapi, konsentrasi analit dalam sel elektrokimia, harus cukup untuk memungkinkan penentuan tingkat titik akhir secara akurat. Bila menggunakan titik akhir visual, titrasi kulometri memerlukan konsentrasi larutan lebih besar dari 10-4 M dan sama halnya dengan titrasi konvensional akan terbatas pada analit besar dan kecil. Sebuah titrasi kulometri dengan titik akhir potensiometri yang sudah ditentukan bisa dilakukan bahkan dengan konsentrasi larutan 10-7 M, yang memungkinkan analisis jejak analit.
Akurasi Akurasi metode kulometri dengan arus terkonrol ditentukan oleh efisiensi arus, akurasi pengukuran arus dan waktu, dan akurasi titik akhir. Dengan peralatan modern kesalahan pengukuran maksimum untuk arus adalah sekitar ± 0,01%, dan untuk waktu sekitar ± 0,1%. Kesalahan titik akhir maksimum untuk titrasi koulometrik sama baiknya dengan titrasi konvensional dan biasanya lebih baik bila menggunakan sedikit reagen. Secara keseluruhan, pengukuran kesalahan ini menunjukkan bahwa akurasi 0,1-0,3% bisa didapat. Karena itu, faktor pembatas sebagian besar analisis adalah efisiensi arusnya. Untungnya efisiensi arus yang lebih besar dari 99,5% seringkali bisa diperoleh dan biasanya melebihi 99,9%.
Dalam koulometri dengan potensial
terkontrol, akurasi ditentukan oleh efisiensi arus dan penentuan muatan.
Asalkan tidak ada bahan pengganggu yang lebih mudah teroksidasi atau tereduksi daripada
analit, efisiensi arus lebih besar dari 99,9% bisa didapat dengan mudah. Akan
tetapi, jika ada bahan pengganggu biasanya dapat dihilangkan dengan memberikan potensial
yang bisa membuat elektrolisis bahan pengganggu secara penuh da[at terjadi tanpa
elektrolisis analit secara bersamaan. Setelah pengganggu dihilangkan potensialnya
bisa diganti ke level

